Gallery

. . . . Friendship

Title : friendship

Cast : Bae Suzy, lee jieun, kim myungsoo

Scriptwriter : bluebyta

Genre : friendship, sad, fantasy

 

Disclaimer : cerita ini merupakan karya dan hak milik penulis akan tetapi tokoh dalam cerita merupakan milik orang tua dan agensi masing-masing. Tidak ada pelanggaran yang dimaksudkan dalam penggunaan tokoh selain untuk cerita.

mian for typo. happy reading

Busan, 5 Oktober 2013

Praang… terjadi lagi  batin soo ji yang sedang meringkuk di tempat tidurnya. Umurnya hampir genap 19 tahun dan selama 19 tahun itu pula dia tak pernah mendapat kedamaian. Kali ini apa lagi tanyanya dalam hati. Kedua orang diluar kamarnya itu selalu saja bertengkar. Membesar-besarkan hal yang sebenarnya sepele dan sayangnya mereka adalah orang tua-nya.

“Sudah kukatakan untuk tidak mengambil uang lagi. Cari saja uang sendiri kalau kau mau berjudi” teriak seorang yeoja

“apa urusannya denganmu. Itu uangku, aku yang mencari uang, jadi kenapa kau yang menghabiskannya untuk pakaian-pakaian tak berguna itu” balas seorang namja kemudian di susul suara benda yang pecah

“aisshhh,,,, aku bisa gila. Kapan kau membawa uang ke rumah ini eoh? Bahkan kau tak menghasilkan apapun 5 tahun terakhir. Aku bahkan tak melihat selembar uang pun saat kau pulang. Nappeun”

Sooji  tersenyum kecut. Benar-benar menggelikan. Mereka berdua, dengan uang yang sooji hasilkan. Sooji beranjak dari tempat tidurnya. Membuka lemarinya dan mengambil sebuah kunci. Langkahnya tertuju pada sebuah pohon di belakang rumahnya.

Senyumnya mengembang begitu melihat sahabatnya. Lee jieun, satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. Yeoja itu yang datang padanya saat harapannya semakin using. Mungkin ada, tapi dulu. Sooji pernah berharap keluarganya akan membaik. Tapi 5 tahun yang lalu, harapannya benar-benar pupus. Saat itulah sooji dengan suka rela menyambut kematiannya. Tapi jieun, dia yang memegang tangan sooji dan membuatnya tetap bertahan.

“lama menunggu?” Tanya sooji

Jieun menggeleng “aniya, tak ada kata lama untuk menunggumu”

Sooji tersenyum “sebaiknya kita ambil sekarang saja” ucapan sooji dibalas anggukan oleh jieun

Mereka berdua mulai menyingkirkan dedaunan kering di bawah pohon. Sooji mulai menggali dengan ranting pohon di sekitarnya diikuti jieun. Sebuah kotak besi dengan ukiran yang indah mulai terlihat. Kedua yeoja itu mengangkatnya dengan susah payah.

“bukalah. Mungkin itu sudah cukup” ucap jieun

Sooji mengambil kunci yang ia letakkan di sakunya kemudian membuka kotak besi itu. Ratusan lembar uang yang 5 tahun terakhir ia kumpulkan. Selalu terlihat begitu bersinar setiap dia membuka kotak untuk menambahkan uang.

“bukankah itu banyak. Mari kita hitung berapa banyak yang kau kumpulkan” ajak jieun

Senyum sooji semakin melebar. Yeoja itu menganggukkan kepalanya kemudian mulai menghitung “jieun-ah” ucapnya sambil menghitung

“wae?” Tanya jieun

“gomawo”

“untuk kebaikanku memberi kotak ini? Atau untuk aku yang menjadi temanmu? Atau…”

Sooji memotong perkataan jieun “semuanya. Termasuk untuk 5 tahun yang lalu. Kalau kau tak menarik tanganku, mungkin aku sudah mati di sungai itu”

Jieun tersenyum memandang sahabatnya yang masih menghitung. Yeoja itu tau, sahabatnya sedang berusaha menahan air matanya agar tak menetes. Jieun memeluk sooji erat “gwenchana yeobo”

“aigoo, aigoo,, jieun-ah. Aku tak bisa bernapas” ucap sooji tapi jieun tetap memeluknya erat

“cah, ini lebih dari cukup” ucap sooji

“sekarang kemana kita akan pergi?” ucap jieun

Sejak 5 tahun yang lalu, sejak jieun datang di kehidupannya, sejak harapannya terpupuk kembali. Sooji benar-benar berniat pergi dari keluarganya dan hidup tanpa silsilah.

“mari kita pergi ke seoul” ajak suzy. Jieun berpikir sejenak kemudian mengangguk

“itu pilihan yang tepat” ucap jieun

“dan mulai sekarang, panggil aku suzy”

“arra. Sekarang masuklah dan kemasi barangmu. Bagaimanapun juga kau orang yang kuat selama ini. jangan pernah sedih karena apapun mulai sekarang. Aku menunggumu disini”

***

Seoul, 8 Oktober 2013

Suzy baru saja selesai berbelanja. Yeoja itu kini sedang sibuk menata bahan makanan di dapurnya yang kecil. Rumah baru, kehidupan  baru, satu-satunya yang tidak baru hanyalah bahwa jieun tetap ada di sampingnya. hal lama yang ia sukai.

5 bungkus ramen, benda terakhir yang diletakkan suzy. Pikiran yeoja itu melayang mengingat kenangan masa lalu yang harusnya ia lupakan.

Flashback

“sooji-ya,,,,,,, sooji-ya,,,,,,,, apa kau tak memasak sesuatu hari ini?”

Yeoja berumur 10 tahun itu hanya diam saat ibunya bertanya

“aigoo,, kenapa hidupku seperti ini. Sebenarnya apa dosaku di kehidupan yang lalu” omelnya. Sooji yang mendengar ibunya terus saja menggerutu tak bisa berbuat apapun

“Ya,apa kau bodoh? Kau tak mengerti apa yang kumaksud? Setidaknya kau harus pergi mencari uang agar bisa makan. Aishh jinjja” omelnya lagi

Yeoja kecil itu segera bergegas meski dia sendiri tak tau harus pergi kemana. sooji berjalan sambil terus memutar otaknya bagaimana agar dia bisa  mendapat uang. Sampai langkahnya terhenti di depan sebuah kedai ramen yang benar-benar penuh sesak dengan pengunjung. Sooji memberanikan diri untuk masuk. Dan disanalah ia berakhir, tempat pertamanya melakukan kerja paruh waktu.

Flashback end

Lamunan suzy terusik saat yeoja itu mendengar sebuah ketukan halus di pintunya. Senyum suzy mengembang, siapa lagi yang akan mengetuk pintu rumahnya selain jieun. Suzy berlari membuka pintu rumahnya. Seperti yang ia duga, di balik pintu jieun sudah berdiri dengan senyumannya yang seperti obat penenang bagi suzy.

“aigoo,, uri jieun ada di sini. Sepertinya kau tau kalau aku merindukanmu.” Ucap suzy sambil menarik tangan jieun

Mereka berdua duduk di ranjang suzy “eyy, gojitmal, kau sedang tidak memikirkanku, suzy-ah lebih baik kau membuat ruang tamu. Bagaimana kalau ada tamu yang datang?”

Suzy tersenyum kecil “maksudmu kau? Kau bisa duduk disini jieun-ah, bukankah ini lebih nyaman. Lagi pula hanya kau satu-satunya tamuku” ucap suzy sambil berdiri. Yeoja itu melihat jam dinding, matanya sedikit melebar kemudian ia berlari mengambil tasnya dan pergi ke luar “aku terlambat bekerja jieun-ah” ucapnya. Namun 5 menit berlalu, suzy sudah berada di hadapan jieun yang tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.

“mianhae jieun-ah. Aku lupa” ucapnya sambil tersenyum kecil

Jieun tersenyum “Baru 2 hari kau di seoul. Bagaimana bisa kau sudah bekerja. kau benar-benar seperti robot suzy-ah. Seolah kau masih berada di antara kedua orang  tuamu.”

Suzy tersenyum lagi, tapi kali ini ada semburat luka tergambar di senyumannya. Bukan karena dirinya yang kini seperti anjing karena terbiasa melakuakan pekerjaan yang bertahun tahun dia kerjakan, pekerjaan yang sebenarnya ia benci. Tapi karena kedua orang tuanya. Mereka berdua yang selama ini menjadi alasan penderitaan suzy telah mati.

“kau mengingat mereka lagi bae sooji. Kau sendiri yang bilang padaku, namamu suzy, kau tak punya marga, kau tak punya masa lalu” ucap jieun

Suzy memandang jieun kemudian tersenyum “aniya jieun-ah, aku hanya berpikir betapa mudahnya mereka berakhir. Seperti yang pernah kaukatakan dulu, mereka mungkin akan berakhir dengan saling membunuh. Dan kenyataannya benar. Bukankah itu lucu?” sesaat pecahan-pecahan kaca dan piring yang berlumuran darah dan bayangan kedua orang tuanya yang tergeletak di lantai terlukis di ingatan suzy.

“lupakan suzy-ah. Kau terluka karena itu, kau terlihat lemah, tidak seperti suzy yang kukenal. Aku tak suka melihatmu seperti itu”

“arra, Aku akan  benar-benar melupakannya. lebih baik temani aku cari kerja.”

***

Seoul, 13 Oktober 2013

Hari ini jieun menemani suzy mencari pekerjaan, sudah lebih dari 6 tempat yang mereka datangi tapi tak satupun yang menerima suzy. Kedua yeoja itu duduk di bawah pohon yang cukup besar “tidak semudah yang ku pikirkan” keluh suzy sambil mengusap peluhnya

“apanya?” ucap jieun polos

“tentu saja mencari pekerjaan, sedari tadi kau hanya mengikutiku dan tak membantuku jieun-ah. Sudah berhari-hari kita berkeliling tapi aku tak juga punya pekerjaan. Aishh jika bukan karena identitas” keluh suzy

“tunggu sebentar” jieun melihat sekeliling “aku tau” jieun bangkit berdiri sambil menarik tangan suzy “kajja”

“eodiga?” Tanya suzy

“sstttt”

Jieun terus saja menarik tangan suzy sambil mempercepat jalannya. Jieun menghentikan langkahnya di samping sebuah lapangan basket.

“di sebelah sana” tunjuk jieun pada sebuah café tak jauh dari tempat mereka berdiri

“kau yakin?”

“eoh. Percaya saja padaku” ucap jieun yakin

***

Hari pertama bekerja. Suzy tak bisa berhenti tersenyum sepanjang waktu sambil menyiapkan diri untuk berangkat kerja. jieun benar-benar orang terbaik yang pernah ia kenal. Kalau bukan karena jieun, dirinya pasti masih sibuk mencari pekerjaan. Suzy hampir siap hanya perlu memakai sepatu kets kesayangannya kemudian pergi. Sayang sekali jieun tak bisa ikut bersamanya saat ini.

***

Hari ini cukup melelahkan. Pasalnya café tempatnya bekerja penuh dengan pengunjung. Mungkin karena aka nada pertandingan di lapangan basket. Para yeoja sudah siap dengan minuman dan makanan mereka masing-masing untuk mengisi tenaga. Entah seberapa keras mereka akan berteriak nanti. Meski dipenuhi kesibukan, suzy tak pernah kehilangan senyumnya. Rasanya menyenangkan bisa terus bergerak, melakukan komunikasi dengan banyak orang dan melupakan kilasan masa lalu yang kadang masih membayanginya.

“suzy-ah” panggil salah seorang rekan kerjanya

“ne”

“antarkan ini pada orang-orang di sana” tunjuknya pada kerumunan orang di lapangan basket “dan jangan  lupa minta uangnya” ucapnya

“ne”

Suzy segera membawa pesanannya

***

“joesonghabnida. Apa anda yang memesan ini?” Tanya suzy pada seorang namja yang baginya terlihat seperti pelatih

“ahh, ne Agassi. Tunggu sebentar” ucapnya “ya kalian kemarilah. Ambil minuman kalian” ucap namja itu pada beberapa namja yang sedang berlatih

“hyung, kami bahkan belum mulai main” kata seorang namja yang sedang melakukan pemanasan

“apa itu masalah besar? Keringat kalian bahkan seperti baru selesai lari puluhan kilo”

“shiero. kami akan minum nanti setelah bertanding” ucapnya sambil melempar bolanya ke ring

“eyyy, soo-ah, jangan keras kepala. Teman-temanmu bahkan sudah menghabiskan minuman mereka”

Namja itu menoleh “Ya! Apa yang kalian lakukan?” namja itu menatap tajam pada teman-temannya. Pandangannya berhenti saat matanya menangkap seorang yeoja yang sedang memegang minuman. Dia berjalan mendekat, mengabil minuman di tangan suzy “neo, bisakah lain kali kau tak datang mengantarkan minum saat kami bahkan belum mulai bertanding?”

“ne?” ucap suzy

“sudahlah. Kuanggap itu artinya iya” ucap namja itu kemudian meletakkan minumannya

“tapi itu perintah” jawab suzy lirih

Namja itu menatap suzy “apapun alasannya. Jebal” nada suara namja itu sedikit meninggi tapi terdengar jelas kalau sedikit ditahan

Suzy memandang namja di hadapannya itu “sekarang apa lagi?” ucap namja itu “hanya itu yang mau kukatakan padamu”

“ah ne, tapi aku minta maaf karena aku tak bisa menolak permintaan pelanggan dan tolong beri aku bayaran untuk minuman itu” ucap suzy dengan nada sehalus mungkin

Namja itu menghela nafas kasar. Nampaknya dia sedikit geram “sudahlah kim myungsoo. Kembalilah berlatih. Aku akan membayarnya” myungsoo kembali ke lapangan dengan suasana hati yang buruk.

***

Myungsoo sedang menunggu teman-temannya untuk berlatih. Tidak ada kata libur berlatih untuk minggu ini, itu karena kemarin mereka nyaris saja kalah bertanding. Kalau saja bukan karena bola minho pada detik-detik terakhir mereka akan benar-benar kalah ditambah lagi mereka benar-benar akan ikut turnamen dalam dua minggu.

“lewat 10 menit. Kenapa mereka selalu saja terlambat” ucap myungsoo

“tenanglah sedikit. Ini baru 10 menit. Aku pastikan mereka semua sudah dating kurang dari 20 menit” ucap minho

“apa bedanya? Bagaimana bisa menang kalau mereka meremehkan waktu seperti ini”

“eyyy, bukankah kau adalah alasan tim jika kemarin kita benar-benar kalah. Siapa yang menyuruhmu emosi dalam pertandingan”

“ishhh ini semua karena yeoja itu” dumel myungsoo

Suasana hening untuk beberapa saat. “minho-ah, apa kau mau bermain?”

Minho memandang myungsoo kemudian pandangannya beralih pada bola basket di hadapannya

“aniya, bukan itu. Bukankah siang ini sangat panas? Ini membuatku sedikit haus” myungsoo mengambil ponselnya, ia menuliskan pesan singkat kemudian menyimpan ponselnya lagi. Sebuah senyuman licik tergambar di wajah namja bermata tajam itu.

Sesaat kemudian senyumannya mengembang saat melihat seorang yeoja menghampirinya “cah, minuman kita sudah datang” ucap myungsoo

Suzy yang mengantarkan minuman menatap aneh ke arah namja yang ia tau namanya adalah kim myungsoo “pesanan anda”

“terimakasih” ucap myungsoo sambil memberikan uang

dua menit berlalu, suzy kembali datang membawa beberapa minuman

“ah, kau datang lagi. Aku lupa memesan untuk yang lain. Terimakasih” ucap myungsoo lagi sambil memberikan uang

Baru saja lima menit berlalu, suzy sudah kembali lagi dengan kantung kertas di tangannya

“wah kau sangat cepat. Aku pikir kami perlu beberapa makanan untuk memulihkan tenaga kami setelah berlatih nanti” ucap myungsoo

Suzy dengan terpaksa memberikan senyumannya “apa anda punya hal lain untuk di pesan? Aku bisa mencatatnya disini sekarang meskipun itu bukan bagian dari pelayanan pada umumnya”

“kurasa ini sudah cukup. Jika aku menginginkan sesuatu aku akan menghubungi” ucap myungsoo dengan senyum liciknya

Suzy tersenyum dengan sedikit terpaksa “akan lebih baik kalau anda datang ke café kami. Di sana bahkan lebih sejuk”

“akan kupertimbangkan”

Lagi-lagi suzy memaksakan senyumnya kemudian membungkuk dan beranjak pergi. Yeoja itu sempat berdesis kesal hingga terdengar oleh myungsoo.

“benar-benar lucu” ucap myungsoo sambil tertawa

“heyy. Kau mempermainkannya. Kau benar-benar menyukainya myungsoo-ah” ucap minho yang kemudian mendapat tatapan tajam dari myungsoo

***

Suzy menghempaskan tubuhnya di ranjang. Hari ini dia cukup kesal karena ulah namja bernama kim myungsoo itu. Ditambah lagi jieun yang tak tau ada dimana sejak kemarin. Tanpa sadar yeoja itu terlelap.

***

Suzy membuka matanya saat ia merasa ada yang menyentuh dirinya.

“eoh jieun-ah” suzy menatap jieun dengan matanya yang belum terbuka seutuhnya. Matanya beralih pada jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi “kau begitu dingin. Kenapa kau pakai pakaian seperti ini? kemarilah” suzy menarik jieun duduk di sebelahnya kemudian menyelimuti yeoja itu “neo, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu. Berpakaian seperti ini dan datang kesini pukul lima pagi. Sebentar lagi musim dingin akan datang dan udara di luar sudah mulai dingin. Kau bisa sakit kalau kau melakukannya lagi”

Jieun tersenyum “aniya, aku tak akan sakit. Berada di dekatmu saja membuatku senang. Aku tak akan sakit. Suzy-ah neo arra?”

“mwo?”

“aku menyayangimu. Sangat. Karena itulah aku suka berada di dekatmu. Terimakasih mau berteman denganku selama ini”

“eyyy, apa sebenarnya yang kau katakana. Aku yang lebih bersyukur karena aku punya kau” ucap suzy sambil merebahkan tubuhnya lagi “Tapi yang sedikit membuatku kesal, saat kau tak ada kemarin. Aku bertemu seorang namja menyebalkan”

“mungkin dia tidak seperti itu suzy-ah. Kupikir dia orang yang baik”

“eyyy, kau berkata seolah kau pernah bertemu dengannya”

“aniya, hanya saja aku merasa kau akan berada di sekeliling orang baik dan menyayangimu setelah ini”

“eoh. Kau salah satunya” ucap suzy sambil menguap

Jieun tersenyum “mari kita habiskan sepanjang hari bersama sebelum semua tak bisa kita lakukan lagi” ucap jieun. Tapi suzy tak merespon. Yeoja itu sudah kembali ke alam bawah sadarnya.

***

Matahari bersinar lembut ditemani udara pagi yang sedikit dingin. Seorang namja bertingkah aneh tak seperti biasannya.

“eodiga?” Tanya seorang lelaki paruh baya

“bermain basket ahboji” jawab myungsoo tanpa menatap ayahnya. Dia berlalu begitu saja seperti angin.

Ayah myungsoo menatap ke arah jam dinding “jam 6 pagi?” kemudian beliau mengendikkan bahunya

***

Kim myungsoo. Ada yang salah dengan namja itu hari ini. Ini semua karena otaknya yang selalu memunculkan bayangan yeoja café itu, dan bodohnya lagi dia tersenyum-senyum sendiri sepanjang malam.

Hangatnya sinar matahari bahkan belum bisa dirasakan kulit warga seoul tapi kim myungsoo sudah duduk manis di pinggir lapangan sambil memainkan bola basketnya. Apa lagi? Jelas sekali kalau dia sedang menunggu yeoja bernama suzy.

Senyumannya mengembang saat matanya menangkap sosok suzy berjalan dari kejauhan. Namun sesaat kemudian muncul kerutan di keningnya. Namja itu menyipitkan matanya mencoba mempertajam penglihatannya sambil berusaha mempercayai apa yang dia lihat. Myungsoo membulatkan matanya begitu otaknya menyadari sesuatu. Dia berlari, mencoba mencari tempat agar dirinya tidak terlihat oleh suzy.

“geu yeoja? Bagaimana bisa?” bisik myungsoo dari balik pohon

***

“suzy-ah, gomawo” ucap jieun

“eoh?” Suzy menatap jieun sebentar “gwenchana” ucapnya “lagi pula ini pertama kalinya kau meminta sesuatu dariku. Mereka pasti mengijinkanku mengambil libur”

“cah, aku akan menunggumu di sini. Masuklah dan minta ijin” ucap jieun disusul anggukan dari suzy. Terlihat senyuman kecil dari jieun. Senyumannya makin mengembang saat ia merasa ada seseorang sedang menatap ke arah suzy “namja yang lucu. Jaga dia untukku ne” ucap jieun yang juga menatap suzy

***

“tempat pertama yang ingin ku kunjungi” ujar jieun

“apa yang bagus dari tempat ini?” Tanya suzy sambil memandang sekelilingnya. Hanya jalanan panjang yang lurus dan sepi “kita bahkan tak bisa mendapatkan makanan untuk di beli”

“aniya suzy-ah. Bukan itu intinya. Tempat seperti ini akan lebih mudah dikenang. Neo arra?”

“tsk, perkataanmu seperti seorang nenek penjual ikan” ucap suzy. Dua orang yeoja itu berjalan menyusuri jalanan tak berujung.

Jelas sekali tempat itu memberikan rasa damai. Tak ada apapun selain mereka berdua, jalanan, pohon, tebing dan burung. Tak ada suara lain. Begitu tenang dan damai.

“jieun-ah”

“wae?”

“mari pergi ke tempat kedua saja. Aku mulai bosan”

Jieun menatap suzy agak sebal “eyy, kau memang susah diajak membuat kenangan”

***

“ini lebih baik, tapi apa untungnya datang kesini?” Tanya suzy

“kenapa kau selalu Tanya apa untungnya? Coba lihat baik-baik dan rasakan. Bukankah ini indah. Tempat ini juga memberi kedamaian”

“benarkah” ucap suzy lirih

Tempat seperti ini mungkin menyenangkan untuk dikunjungi bagi kebanyakan orang tapi tidak untuk suzy. Yeoja ini bahkan membenci tempat seperti ini. Bukan benci akan hamparan bunga yang indah di hadapannya atau pepohonan yang meneduhkan sekelilingnya. Bukan juga benci karena aliran air yang tenang tapi karena setiap berada di tempat sepi hanya kenangan buruk yang bisa dia ingat. Bukankah bekerja dan menyibukkan diri lebih menyenangkan. Saat bekerja dia tak akan memikirkan masa lalunya.

“baiklah suzy-ah. Aku tau” ucap jieun seolah membaca pikiran suzy “mari pergi ke tempat lain”

***

“ya lee jieun, ada apa dengan seleramu. Kenapa di sekian banyak tempat kau harus memilih tempat yang aneh dan sepi” keluh suzy sambil berjalan mengikuti jieun

Kedua yeoja itu kini tengah berada di antara pepohonan. Tempat yang tak bisa ditembus sinar matahari itu sedikit menyeramkan menurut suzy. Tapi yeoja di sebelahnya terlihat senang dan terus saja tersenyum.

“diam dan nikmatilah. Aku menerima kalau kau tak nyaman dengan beberapa tempat sebelumnya tapi yang satu ini, kau harus selalu mengingat tempat ini.”

“tempat ini sedikit menyeramkan jieun-ah. Sekarang aku merasa tempat sebelumnya lebih baik. Bahkan hanya sedikit sinar matahari yang bisa menembus hutan ini. Lebih baik kita kembali” suzy menghentikan langkahnya

“shiero. Butuh waktu lama untuk kembali. Sebentar lagi senja” ucap jieun

“itu bahkan lebih buruk. Ayo kita pulang.” Ucap suzy. Yeoja itu mencoba menarik tangaan jieun “lihat, kau mulai kedinginan. Tanganmu sangat dingin. Kau bisa sakit”

“shiero” ucap jieun. Yeoja itu berbalik menarik tangan suzy

“ya, apa yang salah denganmu. Dua yeoja di tengah hutan? Apa kau pikir itu bagus?”

“tunggulah sebentar” ucap jieun sambil terus berjalan. Yeoja itu mencoba membuat jalan di antara semak belukar dengan tangannya “cah kita sampai”

Tubuh suzy terpaku. Matanya menatap kea rah danau di hadapannya. Tempat yang begitu berbeda. Danau itu terlihat keemasan kaarena pantulan matahari senja. Begitu indah. Kemudian dia memandang jieun “pabo”

“bukankah ini indah. Tak ada seorangpun tau tempat ini”

“arra. Kau yang membuat jalannya dan kau melukai dirimu karena itu. Jinjja pabo yeoja” ucap suzy melihat banyaknya goresan di tangan jieun

“nan gwenchana. kemarilah” ajak jieun yang sudah duduk terlebih dulu. Suzy kemudian beranjak dari tempatnya dan duduk di samping jieun “yepudda eoh?” Tanya jieun

“eoh” ucap suzy sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling “aku akan mengingat tempat ini baik-baik agar kita tak perlu lagi ke sini. Aku tak yakin tanganmu baik-baik saja”

“andwae. Kau harus kesini lagi lain kali” teriak jieun “kau harus sering kesini. Itu artinya kau merindukanku” lirihnya kemudian

Suzy yang mendengar apa yang dikatakan jieun menoleh “neo, apa kau akan pergi?”

Jieun balas menatap suzy. sedetik kemudian ia memalingkan pandangannya “ada yang ingin kukatakan” ucap jieun. Yeoja itu memandang ke belakang “kemarilah kim myungsoo.”

Myungsoo yang sedari tadi mengikuti mereka tersentak saat jieun memanggilnya. Sama halnya dengan suzy. Yeoja itu membelalakkan matanya tak percaya.

“kenapa kau disini?” Tanya suzy “jieun-ah dia namja menyebalkan yang kukatakan tadi” adu suzy “kalian saling mengenal?”

“aniya” ucap jieun dan myungsoo bersamaan hanya saja myungsoo sedikit berteriak sedangkan jieun mengatakannya dengan santa

“kemarilah” ucap jieun pada myungsoo “duduk di sebelah suzy”

Myungsoo mulai melangkah ke samping suzy. Tubuhnya terus saja melakukan tindakan antisipasi “shiero” ucap suzy “duduklah di samping jieun”

“shiero” ucap myungsoo. Raut wajahnya menunjukkan keengganan

“gwenchana suzy-ah. Dia memang harus duduk di sampingmu. Duduklah”

Jieun menggeser tubuhnya menjauh begitu myungsoo duduk di samping suzy. Suzy yang melihat jieun duduk menjauh hendak bangkit berdiri “aniya. Aniya suzy-ah. Tetap disana. Duduklah dengan tenang”

Jieun menatap ke arah langit. Semburat oranye yang tadinya pekat kini mulai menghilang “sebentar lagi langit akan gelap. Matahari akan tenggelam” suzy ikut memandang langit begitu mendengar ucapan jieun “suzy-ah terimakasih untuk menemaniku selama ini. Setelah matahari benar-benar tenggelam nanti mungkin kau tak akan pernah melihatku lagi.”

“ya, apa maksudmu.” Ucap suzy tak senang. Dia erasa sedang di permainkan sekarang

“myungsoo-ssi, dapatkah kau membantuku menjelaskan ini?” ucap jieun

Lagi-lagi myungsoo tersentak “wae? Kenapa aku harus terlibat hal ini. Aku bahkan tak mengenalmu. Haishhh harusnya aku tak mencoba dekat dengan yeoja ini” ucap myungsoo memandang suzy

“tidakkah kau berpikir ini takdir myungsoo-ssi? Kau bisa melihatku, karena itulah aku mempercayakan suzy padamu” jelas jieun

“Ya, kalian berdua mempermainkanku eoh?” Teriak suzy

“Ya, bae suzy. kau gila eoh? Bagaimana bisa kau berteman dengan hantu” teriak myungsoo tak kalah keras

“mwo? YA” bentak suzy

“geumanhae. Kenapa kalian jadi bertengkar.” Lerai jieun

“jieun-ah dia gila. Bagaimana bisa dia menyebutmu…”

“dengarkan aku suzy-ah” potong jieun “sayangnya yang dikatakan myungsoo benar” suzy terdiam. Seluruh badannya terasa lemas, otaknya tak bisa berfungsi dengan baik tak ada satu pun logika yang bbisa menjelaskan semua ini

“sehari sebelum kau mencoba bunuh diri, aku sudah mati di tempat yang sama. Di tempat kau mencoba menghilangkan nyawamu. Saat itu, saat aku menyelamatkanmu, aku bahkan tak menyangka kalau aku bisa melakuakannya, aku hanya tak mau meliahatmu mati. Saat aku menyelamatkanmu, saat itulah aku sadar kalau kau bisa melihatku. Tak ada orang lain yang bisa melihatku tanpa harus takut. Tapi kau tak takut padaku suzy-ah. baru setelah beberapa lama aku sadar kalau kau melihatku seolah aku manusia seperti yang lain. Lalu aku memilih diam agar kau tak menjauh dariku.”

Jieun menatap suzy yang tertunduk “kau ingat kotak yang kuberikan padamu? Menurutmu kenapa kau tetap merasa kotak ituu berat meski kita mengangkatnya bersama? Karena aku tak benar-benar mengangkatnya. Karena aku tak bisa suzy-ah” kedua sudut bibir jieun terangkat, tapi senyuman getir yang muncul di wajahnya “apa kau sadar kalau kau tak pernah bertanya padaku dimana aku tinggal, kenapa aku selalu memakai pakaian ini, kenapa tubuhku selalu dingin atau kenapa aku tak pernah makan? Karena kita berbeda suzy-ah, kita tak perlu punya ikatan dan kecurigaan mengenai hal seperti itu. Saat pagi tadi kau bertanya padaku mengenai pakaian ini dan saat kau mulai menyadari bahwa aku dingin, saat itulah tandanya muncul. Tanda kalau aku harus pergi”

Jieun menatap myungsoo “tempatmu bekerja, pertemuanmu dengan kim myungsoo, hingga namja itu kini ada di sampingmu, semua itu bukan kebetulan suzy-ah. aku membawa kim myungsoo di kehidupanmu karena aku tau dia bisa menjagamu setelah aku pergi”

“lalu kenapa kau harus pergi” ucap suzy masih tak sanggup mengangkat wajahnya “wae jieun-ah? wae?” rintihnya. Butiran air mata sudah membasahi pipinya.

Jieun menatap mmyungsoo. Cukup lama keheningan terjadi sampai akhirnya myungsoo menghela nafas dan angkat bicara “dia harus pergi suzy-ah. karena sekarang dia bisa pergi. dia bersamamu karena dia tak bisa pergi, dia tak tau kenapa dia mati, dia tak bisa pergi karena ada yang tak rela dia pergi. tapi sekarang semua berakhir. Dia harus pergi”

“tapi aku tak rela kau pergi” ucap suzy. yeoja itu menatap jieun lekat. Jieun menatap langit yang kini benar-benar gelap “mianhae suzy-ah. jinjja mianhae. Aku akan merindukanmu” subuh jieun mulai bercahaya. Benar-benar terang sampai cahaya itu mulai meredup dan membuat yeoja itu berpendar.

“jieun-ah” suzy bangkit dari duduknya menghampiri sahabatnya yang kini mulai berpendar. Ia mencoba meraih jieun tapi tak bisa. Dia tak bisa menyentuh sahabatnya lagi “andwae jieun-ah” suzy semakin frustasi saat jieun mulai tak terlihat “andwae” lirih suzy. kakinya benar-benar tak mampu menopang tubunya sekarang.

“kubilang aku tak rela kau perki jieun-ah. aku tak rela kau pergi” yeoja it uterus mengulang kata-kata yang sama.

Sementara myungsoo, hanya bisa duduk di sampingnya sembari menatap langit yang pekat “pergilah lee jieun, aku pasti akan menjaganya seperti yang kau mau”

the end

 

Advertisements

12 thoughts on “. . . . Friendship

  1. Hubungan sahabat jieun dan sooji sangat mengharukan..smpe sedih sayah..hikss..dan aga sedijit curiga diawal tt sosok jieun juga..ternyata myungsoo pnya kelebihan yaa..
    Ceritanya keren.. ditunggu next ffnya.. hwaiting

    Like

  2. Ternyata Jieun sudah meninggal, pantas saja dia selalu ada saat Suzy membutuhkan, karena memang selama ini dia seorang arwah… sedih…
    Cerita yg bagus, gomawo author 🙂

    Like

  3. entah kenapa dari awal udah punya feeling kalau jieun itu sebenarx bukan manusia. eh ternyata bener. jadi myung skrg bisa jadi pengganti jieun untk suzy.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s