Gallery

U and I part 12

myungzy

Author : Numi
Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy
Genre : Family, Friendship, Romance —
Rating : PG-15
Type : Chapter

Semua cerita, karakter, setting, alur dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Myungsoo, Bae Suzy, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
DON’T BE SILENT READER
Happy Reading ^^

Suara langkah Suzy semakin dekat dan Myungsoo bisa mendengarnya. Pegangan pintu mulai bergerak dan pintu sedikit demi sedikit terbuka.

@@@

PART 12

Myungsoo secepat kilat membaringkan tubuhnya dan kembali memejamkan matanya. Bau stroberi segar seketika menyeruak sampai ke indra penciuman Myungsoo. Tidak berubah, baumu tetap sama. Tubuh Myungsoo menegang saat merasakan tangan Suzy menempel di dahinya.

“Sudah tidak demam. Seung Yeon-ah ayo keluar biarkan samcheon beristirahat” ajak Suzy sambil melebarkan tangannya untuk menggendong gadis kecil itu.

Seung Yeon menggeleng lalu beralih menatap Myungsoo yang berbaring di sampingnnya. Menepuk pelan pipi Myungsoo “Samcheon bangunglah. Tadi Samcheon sudah bangun lalu ia menyuruhku…” belum selesai berbicara Myungsoo segera membekap mulut Seung Yeon.

“Jangan dengarkan ucapannya”

Suzy melongo dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Bukankah dia tadi masih tertidur pikirnya.

Kim Myungsoo melepaskan tangannya dari mulut Seung Yeon dan mendudukkan tubuhnya seraya menyilangkan kedua kakinya.
Keduanya tidak saling menatap dan sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mengalihkan ke arah berlawanan.

“Apa kau sudah merasa baikan?” Suzy membuka suara terlebih dahulu tanpa memandang Myungsoo.

“Eoh, tapi kenapa aku bisa di sini?”

“Itu, itu..” ucap Suzy terbata-bata.

“Samcheon kemarin tertidur dan kami membawa samcheon ke sini” sahut Seung Yeon.

Kim Myungsoo menaikkan alisnya. Ingatannya membawanya ke kejadian kemarin sore.

“Omo!!” teriaknya sambil membekap mulut. Ia mengingat apa yang terjadi saat dirinya pingsan kemarin sore.

“Waeyo samcheon?”

Myungsoo hanya menggeleng lalu bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengambil jas dan dasi yang terselempang di kursi sudut ruangan.
“Aku akan kembali ke apartemenku” ucapnya seraya membuka pintu.

“Tunggu, sarapanlah di sini. Aku sudah membuatkannya untukmu” sergah Suzy di belakang Myungsoo.

Myungsoo menoleh sebelum akhirnya membuka pintu kamar dan mulai melangkah pergi. “Tidak terima kasih” ujarnya tetap berjalan.

@@@

Dentingan piring dan sendok saling berserobok. Gumaman lirih Seung Yeon ikut tercampur di dalam suasana yang kikuk ini.

Sebenarnya Myungsoo tadi sudah mengenakan sepatu dan tinggal melangkah keluar dari apartemen ini jika saja gadis kecil yang berada di seberang meja tidak menarik dirinya untuk kembali ke dalam.

Suzy membuatkan sandwich dan segelas coklat panas untuknya. Sederhana memang, tapi tidak bagi Myungsoo, ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang berbeda.

“Aku sudah selesai, gomawo” ucapnya singkat. Bangkit dari tempat duduk dan keluar dari apartemen Suzy. Ia bisa bernafas lega sekarang.

@@@

Beep.

Pintu apartemennya tertutup. Suzy termangu menatap kepergian Myungsoo. Ia melihat piring dan gelas kosong di depannya lalu menyunggingkan seulas senyum.

Wajar kau bersikap seperti itu padaku. Tapi tidak sepenuhnya itu semua salahku. Jika saja saat itu kau mau mendengar ucapanku.
Suzy menghelas napas panjang. Kenapa ia selalu berandai-andai dengan masa lalunya. Ia juga tidak bisa selau menyalahkan Eommanya yang mengikutkannya ke biro jodoh itu. Hal ini memang sudah menjadi alur kehidupannya. Suzy sepenuhnya sadar.

@@@

“Yeobseyeo? Kenapa harabeoji?” tanya Myungsoo saat menerima panggilan dari kakeknya saat ia baru memasuki apartemennya.

“Kemarilah sepulang dari kantor, aku ingin bertemu denganmu”

“Ne, arraseoyo”

Panggilan singkat berakhir. Myungsoo langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Meletakkan punggungnya tangannya di atas kening seraya memejamkan mata.

Kenapa jantungku masih berdegup kencang saat bertemu denganmu. Aku ingin melupakanmu. Tapi tidak dengan hatiku.

Tanpa sadar ia mulai terlelap.

@@@

“Immo, gwenchanayo?”

“Mmm, gwenchana Seung Yeon-ah. Apa kau ingin sesuatu?”

Saat ini ia dan Seung Yeon sedang berada di taman bermain setelah sebelumnya ia mengunjungi galerinya sebentar. Sebulan lagi ia akan mengadakan pameran di salah perusahaan besar yang merayakan perayaan ulang tahun pemiliknya. Kesibukkan mulai menghampirinya. Untunglah lusa Seung Yeon sudah di jemput ibunya. Jika tidak, itu akan sangat melelahkan untuknya.

Seung Yeon menunjuk “Aku ingin balon merah itu Immo. Tapi aku lelah untuk berjalan kesana”

“Apa kau ingin kugendong?” tawar Suzy.

“Aniyo, aku ingin di sini saja Immo”

“Ya sudah, aku akan membelikannya untukmu. Duduk di kursi itu ya, jangan kemana-mana. Arraseo?”

“Mmm”

Bae Suzy melangkahkan menuju penjual balon. Ia mengantri sementara terus mengawasi Seung Yeon dari jauh. Segereombolan anak-anak berjalan di depan Seung Yeon dan membuat Suzy tidak bisa melihat Seung Yeon. Suzy menjinjitkan kakinya dan masih tidak bisa melihat. Lalu tiba giliran, ia mengambil uang di tas selempang kecilnya. Saat ia berbalik, jantungnya terasa berhenti berdetak. Seung Yeon menghilang. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah kursi yang tadi duduki Seung Yeon dan menghiraukan balon yang ia genggam sekarang terlepas ke udara.

“Seung Yeon-ah. Seung Yeon-ah. Yoo Seung Yeon dimana kau?” teriak Suzy kesana kemari mengelilingi taman. Ia sudah bertanya ke beberapa orang namun tidak ada yang melihat gadis kecil dengan bandana kelinci berwarna putih itu.

Rintik hujan mulai turun dan membasahi Suzy yang terduduk di tanah. “Eomma, apa yang harus kulakukan”

@@@

Seung Yeon mengayun-ayunkan kakinya sembari menunggu Suzy membelikan balon untuknya. Segerombolan anak-anak yang lebih besarnya darinya lewat dihadapannya. Ia melihat salah satu mereka membawa keranjang yang didalamnya ada anak kelinci. Seung Yeon sangat menyukai kelinci. Ia langsung berjalan mendekati anak perempuan itu dan mengikutinya.

“Kau siapa?” Tanya seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun yang menyadari keberadaan orang asing di kelompoknya. Kini teman-temannya memandang yeoja kecil yang berada ditengah-tengah mereka.

“Yoo Seung Yeon” ucapnya sambil tersenyum dan menampakkan gigi kelincinya.

“Omo, imut sekali” ucap yeoja yang berada disampingnya sambil mencubit gemas pipi Seung Yeon.

“Songssaenim, ada anak asing di sini”

Seorang guru perempuan menghampiri Seung Yeon. “Adik kecil ibumu dimana?”

Seung Yeon tidak menjawab, ia mengingat jika dirinya meninggalkan Suzy. “Suzy Immo” teriaknya sambil menangis.

“Ssaem bagaimana ini? busnya sudah datang” panik seorang anak perempuan bertubuh kurus.

Seung Yeon masih terus menangis kencang.

“Tenanglah oppa ada di sini” seorang anak laki-laki mendekati Seung Yeon sambil mengusap kepalanya berusaha memenangkannya.
Seung Yeon terpana saat melihat anak laki-laki disampingnya.

“Ssaem biarkan ia ikut denganku. Nanti aku akan mengajak Eomma untuk membawanya ke kantor polisi untuk mencari orang tuanya”
Hujan mulai turun. Mereka semua berlari menuju bus dan guru perempuan itu menggendong Seung Yeon.

@@@

Kim So Eun melajukan mobilnya saat hujan mulai turun. Sudah waktunya menjemput anak laki-lakinya dari sekolah. “Aigoo kenapa tiba-tiba hujan. Padahal tadi cuacanya cerah sekali” eluhnya.
Kini ia sudah sampai dan mendapati beberapa anak menunggu jemputan di lorong sekolah. So Eun turun dari kemudi dan membuka payungnya. Ia mencari sosok putranya. “Eomma, yogiyo” teriak dari ujung lorong di dekat ruang guru.

“Bum So-ah kajja kita pulang”

“Eomma, tunggu sebentar”

Ruang guru terbuka. Seorang guru menampakkan dirinya diikuti gadis kecil di sampingnya yang berlari ke arah Bum So. “Oppa”

So Eun membelalakkan matanya sambil menunjuk “Ini siapa Bum So-ah?”

“Maaf, apa Anda tidak keberatan membawanya. Nanti saya akan menemani Anda ke kantor polisi? Dia tiba-tiba saja berada diantara kami” ujar Ssaem.

“Kenapa Anda tidak mencari ibunya?” sahut So Eun pada guru anaknya.

“Maaf sekali, tetapi kondisinya tadi tidak memungkinkan”

“Eomma, biarkan Seung Yeon ikut dengan kita. Dia lucu sekali. Lihatlah”

Sambil menunduk, So Eun menatap yeoja kecil yang sekarang sedang di rangkul anaknya. Ia takut jika disangka ini kasus penculikan.
Bum So menatapnya memohon.

“Ya sudah, kajja. Biarkan Eomma menggendongnya” lalu mereka pamit dengan guru Bum So.

So Eun menatap anaknya yang berada di kursi belakang dan yeoja kecil yang ia kenal Seung Yeon dari spion tengah. Melihat keakraban yang terjalin antara keduanya membuatnya berpikir untuk memberi Bum So seorang adik. Ia akan mendiskusikannya dengan Kim Bum.

@@@

Dering telepon membangunkan Myungsoo. Ia mengambil ponselnya yang berada di meja samping tempat tidurnya.

“Yeobseyo” suara paraunya terdengar di ujung telepon.

“Apa kau baru bangun? Ya, kenapa hari ini tidak pergi ke kantor?”
“Hyung, aku tadi tidak enak badan”

“Harabeoji meneleponku, menyuruhku untuk menghubungiku dan memintamu untuk segera menemuinya. Tapi jika kau sedang sakit, kau tidak usah ke sana. Aku akan memberitahunya”

“Tidak usah, aku sudah baikan. Aku akan menemuinya sekarang”

Tuut.Panggilan berakhir.

Myungsoo menguap lebar tanpa menutupi mulutnya. Ia menuju wastafel kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Ia putuskan untuk tidak mandi hari ini.

Setelah selesai Myungsoo mengenakan kemeja pendek hitam dan celena jeans panjang dengan warna senada. Kim Myungsoo sangat menyukai warna hitam. Ia lalu mematikan lampu apartemennya dan hanya menyalakan lampu kamarnya. Kali ini ia sudah berdiri di depan lift, dalam hati ia berharap tidak bertemu Suzy dan yeoja kecil yang ia pikir anak Suzy.

Myungsoo sudah berada di basement kemudian berjalan menuju mobil yang terpakir 3 meter darinya. Membuka pintu kemudi, memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Mobil sedan hitam Myungsoo menelusuri jalanan Seoul yang diguyur gerimis dengan kecepatan sedang.

Kim Myungsoo membunyikan klakson di depan pagar rumah kakeknya, otomatis pagar yang menjulang tinggi itu terbuka. Melajukan mobilnya dengan pelan dan berhenti di depan rumah bercat putih itu.
Derap langkah kakinya satu persatu melewati ruang tamu. Dan berhenti di depan pintu ruangan kakeknya. Tepat saat itu pula Sunggyu membuka pintu dari dalam. Sangat terkejut ia melangkah ke belakang.

“Ya anak nakal kau mengagetiku!” sungutnya dengan suara keras.

“Sejak kapan kau berada di sini?” lanjutnya sambil mengusap dada kirinya.

Myungsoo hanya menanggapi dengan cengiran. “Ada apa harabeoji ingin bertemu denganku?”

“Kau memang anak nakal. Tidak menjawab pertanyaanku malah balik bertanya. Kajja kita ke ruang keluarga saja” ucap Sunggyu berjalan melewati Myungsoo dengan bantuan tongkat keramatnya.

Myungsoo mengekor di belakang. Hampir saja dirinya menabrak Sunggyu. “Harabeoji kenapa tiba-tiba berhenti”

“Aku mendengar suara anak kecil perempuan tertawa cekikikan” kata Sunggyu mengedarkan pandangannya. Mencari sumber suara.

“Aku tidak mendengar apa pun. Mungkin itu Bum So” kata Myungsoo yang sekarang berjalan mendahului kakeknya. Menuju sofa. Mengambil toples yang berisi cemilan. Membuka dan mulai memakannya.

Sunggyu kini duduk di samping Myungsoo. Ikut mengambil beberapa cemilan. “Makanan apa ini keras sekali” kata Sunggyu mengambil tisu lalu melepehnya. Mengembalikan sisanya yang belum ia makan ke dalam toples.

Kim Myungsoo mengamati tingkah laku kakeknya dari samping. “Harabeoji jorok sekali” cibirnya.

“Ya, aku belum memakannya. Sayang jika membuang-buang makanan”
Sunggyu kembali memasang telinga. Ia mendengar dengan jelas suara anak kecil perempuan tertawa. Ia tau benar jika itu bukan suara cicitnya, Bum So.

“Aku mendengarnya lagi”

“Apa?”

“Suara anak perempuan tertawa” ucap Sunggyu memasang wajah serius. Merinding. Ia kembali melihat sekeliling dan tidak mendapati siapa pun. Dari ruang ini, kamar Bum So lah yang terdekat. Sunggyu memajukan sedikit kepalanya dan memandang lekat daun pintu kamar cicitnya. Myungsoo mengikuti arah pandang kakeknya.

“Aaaaaa” teriak keduanya saat melihat rambut panjang terurai tanpa wajah.

Kim So Eun menegakkan kepalanya dan mengikat rambut panjangnya. “Waeyo?” tanyanya menatap bingung Sunggyu dan Myungsoo bergantian.

“Noona. Kau mengagetkan kami saja dengan keadaan seperti itu”

“Seperti apa? Aku hanya membersihkan rambutku dari mainan Bum So” ucap So Eun menghampiri keduanya.

“So Eun-ah. Aku mendengar tawa yeoja kecil. Apa kau mendengarnya?” Sunggyu menarik nafas pendek lalu menghembuskan dan melanjutkan ucapannya “Aku terus mengatakannya pada Myungsoo tapi dia tidak mempercayainya”

So Eun tersenyum menanggapi ucapan Sunggyu.

“Jelas saja aku tidak mempercayai ucapan harabeoji karena aku memang tidak mendengarnya”

“Bum So-ah” panggil So Eun pada anak laki-lakinya.

Dari luar terdengar derap langkah kaki Bum So dari dalam. “Ne Eomma” jawab Bum So setelah membuka pintu. Kemudian dari belakang punggungnya muncul yeoja kecil yang membuat Myungsoo menjatuhkan cemilannya di karpet lantai.

Aku pasti bermimpi. Kenapa aku selalu bertemu dengan gadis kecil ini. Bagaimana bisa dia berada di sini pikiran itu berkecamuk di kepala Myungsoo.

“Harbeoji bisa kau memukulku dengan tongkat keramatmu itu” pinta Myungsoo.

Dengan senang hati Sunggyu mengabulkan permintaan cucunya. “Tentu saja”

PLETAK.

Tongkat Sunggyu mengenai ubun-ubun Myungsoo lumayan keras. “Auuu sakit. Kenapa kau memukulku sekeras ini” marah Myungsoo.

“Seung Yeon-ah kemarilah sayang” panggil So Eun.

Seung Yeon berjalan ke arah Sunggyu, Myungsoo dan So Eun dengan langkah kecil sambil berjinjit.

“Annyeonghaseyo Seung… eoh samcheon” tunjuk Seung Yeon pada Myungsoo.

Sunggyu dan So Eung menatap saling menatap lalu mengalihkan perhatian mereka pada Myungsoo. “Dia siapa So Eun-ah? Apa kau mengenalnya Myung?” tanya Sunggyu.

“Samcheon apa kau mengenal Seung Yeon?” kini Bum So menghampiri Myungsoo meminta penjelasan.

“Dia anak temanku” ucapnya kemudian.

“Noona, bagaimana bisa dia di sini?” lanjut Myungsoo dengan sebuah pertanyaan.

So Eun menjelaskannya dari awal dan Bum So ikut menambahkan. Seung Yeon duduk dipangkuan So Eun, menatap orang-orang di sekitarnya bergantian. Ia tidak memahami apa yang mereka bicarakan.

“Seung Yeon-ah, ibumu dimana?” tanya.

“Amerika”

Myungsoo menaikkan kedua alisnya. Ia mengira jika Suzy sekarang berada di Amerika. Lalu bagaimana dia bisa meninggalkan anaknya pikirnya kemudian.

“Suzy Immo, huaaaaaa” tiba-tiba Seung Yeon menangis histeris mengingat Suzy.

“Tunggu, tunggu. Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Myungsoo sekali lagi. Sepertinya ia tidak salah dengar saat gadis kecil ini memanggil Suzy dengan sebutan Immo.

“Suzy Immo” teriak Seung Yeon dengan tangis yang semakin keras.

“Myung-ah, apa kau mengenal Suzy?”

Dengan mantap Myungsoo mengangguk. Bangkit dari sofa lalu menggendong Seung Yeon “Samcheon akan mengantarkanmu menemui Suzy Immo. Harabeoji aku pergi dulu” Myungsoo pergi begitu saja tanpa persetujuan kakeknya.

@@@

“Seung Yeon-ah, apa benar jika Suzy Immo bukan ibumu?” tanya Myungsoo kesekian kalinya dari kursi kemudi.

Yoo Seung Yeon menjawabnya dengan anggukan. Suara sesenggukan akibat tangisnya masih terdengar.

Entah mengapa mendengar kenyataan ini membuatnya tersenyum senang. Akhirnya mobilnya sampai lalu ia membuka pintu kemudi, berjalan melewati depan mobil dan berhenti di sisi pintu yang lain. “Kajja” ujar Myungsoo melebarkan tangan untuk menggendong Seung Yeon.
Semenjak 3 menit yang lalu Myungsoo sudah berada di depan pintu Suzy dan berulang kali memencet bel. Namun tidak ada respon dari dalam. Seung Yeon masih berada dalam gendongan Myungsoo dan sekarang tertidur lelap.

Kim Myungsoo mendengar langkah kaki dari sisi kirinya. Ia menoleh dan mendapati Suzy dengan keadaan kacau. Tubuhnya basah kuyup dan rambutnya acak-acakan. Tentu saja ia sudah menduganya. Bodohnya lagi, ia baru sadar kenapa tadi ia tidak langsung menghubunginya.

“Suzy-ah” seru Myungsoo.

“Kim Myungsoo memanggilku” ucapnya lirih. Suzy menyadari anak kecil dalam gendongan Myungsoo, dari bandana serta pakaiannya itu pasti, “Yoo Seung Yeon” teriak Suzy menghampiri Myungsoo lalu menangis sambil berjongkok di samping Myungsoo. Tubuhnya yang menggigil ia hiraukan.

Perlahan Myungsoo mendekati Suzy, berjongkok dan memeluk erat yeoja itu dengan tangan kanannya yang bebas.

TBC

Tolong tinggalkan jejak kalian setelah selesai membaca !

Advertisements

25 thoughts on “U and I part 12

  1. Akhrnya myungsoo tau klo seung yeon itu bukan anak suzy…
    soo apa yg akan dilakukan myungsoo selanjutnya.. ditunggu kelanjutannya,., hwaiting

    Like

  2. Gue belom sempat baca ulang part2 sebelumnya.
    Jadinya masih blank. Hihiii
    Tapi baca 2 part terakhir ini seru banget. Myungsoo dah mulai mencair sama Suzy dan dia juga dah tau kalau seung yoon bukan anak Suzy. Next part ditunggu. 🙂

    Like

  3. Ternyata salah paham yang slama ini myungsoo pikir bahwa seung yeon itu anak suzy, telah berakhir. Semoga dengan ini, mereka bisa segera bersama 🙂

    next part nya ditunggu ya 🙂 Cheer Up^^

    Like

  4. akhirnya myung mengetahui kenyataan bhwa seung hyon bukan anaknya suzy yeyeye… alu yakin dia pasti seneng banget

    Like

  5. Yeah ,,,,kesalah pahaman mereka akhirnya terselesaikan juga.myungsoo sih susah banget dengerin penjelasan orang…
    Ditunggu sweet moment myungzy thor.fighting.

    Like

  6. akhirnya myung tau huwaaa nakin seru deh lama lama aku suka thor..
    next nya aku izin baca ya
    thank thor
    saranghamnida..♡♡

    Like

  7. finally, myung sudah mengetahui kalo seung yeon bukan anaknya suzy, semoga kesalahpahaman antara mereka segera selesai..

    Like

  8. Pingback: U and I | Hanfubita

  9. Habis baca ulang dari part2 sebelumnya dulu, baru baca part ini, soalnya lupa…
    Akhirnya Myungsoo tau kalau Seung Yeon bukan anak Suzy… tp masih ada pengganggu diantara mereka, Soojung yg menyebalkan… semoga Myungsoo dan Suzy bisa segera kembali bersama…
    Langsung baca next partnya, penasaran… gomawo author 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s