Gallery

Stand by Me part 5

PhotoGrid_1469281777589

Author         : Numi

Main Cast      : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Other Cast     : Seo Kang Joon, Park Jiyeon, Kim Yoon Hye, Byun Yo Han

Rating            : PG-15

Type              : Chapter

 

Semua cerita, karakter, setting, alur dll adalah milik dari masing-masing author.  Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta , atau produser dari media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Myungsoo, Bae Suzy, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan  agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

DON’T BE SILENT READER

Sorry for typo

Happy Reading ^^

Suzy dan Jiyeon berlari ke luar. Melerai ibunya. “Eomma, cukup” tangis Suzy memeluk ibunya dari belakang. Jiyeon menahan tangan bibinya “Bibi, hentikan”

Myungsoo menarik tangan adiknya. Sedikit menjauh dari keributan. “Oppa, apa yang sedang terjadi?” tanya Yoon Hye dengan mata berkaca-kaca.

@@@

PART 5

“Aish. Sialan. Seo Kang Joon berengsek. Aku akan membunuhmu!” teriak Il Hwa sambil memukul-mukul lantai dengan kedua tangannya. Air matanya kini sudah tidak bisa keluar. Amarah yang meluap-luap memenuhi dirinya. Hingga tidak tau lagi apa yang harus dia perbuat. 

Dia benar-benar merasa bersalah pada putrinya. Gara-gara laki-laki itu dirinya terus saja menyalahkan putrinya atas semua yang terjadi. Terlebih selama ini ternyata putrinya lah yang paling terluka. Dia salah besar. Penyebab pembatalan pernikahan bukanlah putrinya, tapi Seo Kang Joon. Bae Suzy putri kesayangannya hanyalah korban. Ya, dia hanyalah korban Seo Kang Joon.

Il Hwa mengepalkan tangannya sekuat tenaga, hingga buku-buku tangannya memutih. Di sampingnya hanya ada Jiyeon, sama halnya dengan dirinya. Tapi tak melakukan apa pun kecuali menangis. Putri bungsunya kini memilih mengurung diri di kamar.

@@@

Suzy terluka untuk yang kedua kalinya. Akhirnya ibunya telah mengetahui. Mengetahui jika dirinyalah yang sebenarnya diputuskan. Tak lama lagi, ayahnya pasti akan mengetahuinya juga. Bahkan dia lebih tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi murka kakaknya. Kelopak matanya tidak sanggup dia buka. Namun air mata terus mengalir di sisi luar.

Seo Kang Joon tidak melakukan perlawanan sedikit pun ketika ibunya mengamuk. Dia bisa melihat sudut bibir laki-laki itu terluka. Bahkan mungkin saja bagian tubuhnya yang lain lebam. Tapi biarkan saja, dia memang pantas menerimanya. Karena Suzy tidak bisa melakukan apa-apa saat malam itu. Dan pada akhirnya Il Hwa. Ibu Suzy memergokinya dengan seorang wanita dan meluapkan kemarahan yang Suzy rasakan kemarin. Tuhan masih memihak padanya.

Bae Suzy memiringkan tubuhnya. Dia bisa merasakan bantalnya yang basah dari pipinya. Biarlah, hanya untuk kali ini saja. Toh, nanti akan kering dengan sendirinya.

Terlintas kembali di ingatan. Ketika dia dan Jiyeon sedang mengobati lukanya di kamarnya. Suara teriakan ibunya membuatnya dan Park Jiyeon beranjak, berlari menatap luar dari jendelanya. Ingin mengetahui apa yang terjadi. Mendapati ibunya memukul Kang Joon. Refleks dirinya membuka pintu dan berlari.

Miris. Kisah cintanya memang sangat miris. Sekaligus memilukan. Suzy meraih guling yang berada di dekat kakinya. Dengan mengapitnya dengan kedua kaki. Memeluknya erat.

BRAK.

Pintu kamar Suzy terbuka. Derap langkah dua orang kini terhenti di dekat tempat tidur Suzy. Sedangkan Suzy memunggungi mereka.

“Kajja” ajak Il Hwa menarik lengan putrinya. Il Hwa memandang putrinya. Air mata dia tahan. Jantungnya terasa tertusuk-tusuk. Menyakitkan melihat putrinya yang ceria seperti ini.

“Kemana?” ucap Suzy dengan suara bergetar. Matanya masih tertutup.

Jiyeon dan Il Hwa saling pandang. Jiyeon mengepalkan tangannya. Tak tega melihat sepupunya dengan keadaan yang menyedihkan. Aku akan membuat perhitungan denganmu Seo Kang Joon.

“Tidak usah tanya. Ikut saja dengan kami” kata Jiyeon sambil menarik sisi lengan yang lain Suzy.

@@@

Ternyata hari sudah beranjak petang ketika mereka keluar. Tanpa menyangka jika mereka bertiga mendekam di dalam rumah dalam suasana haru telah berlangsung sangat lama. Berjalan berbaris. Il Hwa, Suzy dan Jiyeon. Tanpa adanya percakapan. Hal yang tidak biasa, mereka lakukan. Ya, karena situasi memang tidak mendukung untuk melakukannya. Il Hwa berhenti diikuti Suzy serta Jiyeon. Memandang kedai di sampingnya. Kedai dengan nuansa khas Korea. Terdapat empat meja panjang berjajar tanpa kursi. Il Hwa melepas alas kakinya, membalikkan tubuh.

“Aku yang akan bayar, pesan saja apa pun yang kalian inginkan” kembali membalikkan tubuhnya sambil merapatkan jaket wol coklat yang warnanya sudah mulai memudar.

Suzy melepas sandalnya. Menginjak lantai kayu sedikit berjinjit. Mengira jika dingin. Ah, pemilik kedai ini sudah memasang penghangat di bawahnya. Langkah kakinya kembali normal. Dia mengikuti ibunya sambil menatap orang-orang yang makan dengan lahapnya, dan beberapa lainnya sudah bicara ngelantur karena mabuk.

Jiyeon menarik lengan kiri Suzy. Hampir saja sepupunya menginjak kaki lelaki tua yang menyelonjorkan kakinya. “Awas.”

Suzy menunduk. Menghela nafas lega. Untunglah Jiyeon dengan cekatan menariknya. Menatap lelaki tua itu sekelas kemudian melanjutkan langkahnya. Cahaya lampu di kedai ini cukup terang dan membuat Suzy sebenarnya tidak nyaman.

Seorang wanita mungkin berusia awal lima puluh tahunan memnghampiri mereka. Ibu Suzy menatap menu yang di pasang tepat di dinding sampingnya. “Goigui, Sundubu Jjigae dan lima botol soju” ucap Jiyeon.

Tak berapa lama semua makanan itu tersaji di depan mereka. Sambil menunggu daging yang mereka panggang matang, mereka memakan Sundubu jjigae terlebih dahulu. Suasana masih benar benar hening. Hingga semua makanan telah mereka habiskan. Bahkan soju mereka juga tak tersisa. Jiyeon yang berada di hadapan Suzy dan Il Hwa beranjak. Kini duduk di dekat Suzy sambil merangkulnya. Il Hwa pun ikut merangkul Suzy. Mereka bertiga mulai menangis bersamaan.

“Aku tak menyangka nasibku akan seperti ini Eomma” rengek Suzy.

“Eomma juga tidak menyangka putri Eomma ini di sakiti oleh lelaki sialan itu Bae Suzy.”

“Kalian tenang saja, aku akan menghajarnya” Jiyeon ikut menimpali.

Ketiganya saling merangkul, bergerak ke kiri kanan. Menangis. Lalu berhenti. Kemudian menangis lagi. Hal ini berlangsung terus menerus. Hingga pemilik kedai menghampiri mereka dan mengatakan jika kedai tersebut akan tutup.

Mereka berjalan sempoyongan saling berangkulan. Bergumam tidak jelas, dan sesekali menangis. Di usianya yang tidak bisa dikatakan muda, Il Hwa terlihat sangat gila. Melakukan hal seperti ini. Tapi dia tidak peduli. Toh, suaminya sedang tidak ada di rumah. Apalagi anak sulungnya, yang selalu melarangnya mabuk. Yang terpenting baginya saat ini juga adalah Suzy. Dia tidak memikirkan apa pun selain putrinya ini. Memandangnya dari samping dan melihatnya tersenyum membuat hatinya sedikit menghangat. Senyuman ikut tersunggging di wajahnya. Dia berjanji tak akan membiarkan orang lain terlebih seorang lelaki melukai hati putrinya. Ya, dia akan menepati janjinya. Menjaga Suzy hingga kapan pun.

Suzy memejamkan matanya. Menengadahkan kepalanya ke langit. Menghirup udara dalam-dalam. Menikmati setiap hembusan angin yang menyapu wajahnya dan menerbangkan rambut yang dia gerai. Tanpa sedikit pun membuka mata, dirinya hanya berjalan mengikuti setiap dorongan dari ibunya dan Jiyeon. Dia merasa sangat bersyukur memiliki orang-orang yang masih menyayanginya. Tapi jika ayah dan kakak lelakinya mengetahui semua ini. Dia benar-benar ingin menghilang saja. Oh, tunggu. Kapan ayahnya akan pulang? Bisa gawat jika ayahnya itu melihat mereka seperti ini. Jika kakak lelakinya, dia malah tidak terlalu memikirkannya. Karena kakaknya itu pasti akan menghubungi dirinya ataupun ibunya terlebih dahulu jika hendak pulang. Suzy mulai menghitung dengan jarinya yang masih berada di atas bahu Jiyeon sambil membuka matanya. Ayahnya pergi hari jumat, dan mengatakan akan pulang tiga hari lagi. Hari senin, ya benar hari senin. Perhitungannya tepat. Tapi kenapa ada bayangan seseorang di depan rumahnya? Mungkinkah ayahnya? Suzy menggeleng cepat hingga kepalanya berbenturan dengan Jiyeon.

“Ya, sakit Bae Suzy” ucap Jiyeon sambil mengusap kepalanya.

Suzy menghembuskan nafas kesal. Bukankah seharusnya dirinyalah yang mabuk berat, tapi kenyataannya malah ibunya dan Park Jieyon. Seolah-olah mereka disini yang paling terluka. Ya Tuhan, ini membuatnya kesulitan untuk berjalan sambil membopong mereka berdua.

Ibunya sudah mulai menggila. Tak henti-hentinya terus mengumpat dengan embel-embel nama Seo Kang Joon. Ketiganya perlahan-lahan mendekati rumah.

“Oh, Op..Oppa. Kau pulang? Kenapa tidak memberitahuku?” ucap Suzy terbata-taba sambil membelalakkan matanya. Tak menyangka jika kakak lelakinya itu sudah berdiri di depannya sambil melipat tangannya. Pekerjaan kakaknya menuntutnya tinggal jauh dari keluarga. Kakak Suzy merupakan seorang arsitek, dan sekarang dia tinggal di Daejeon. Kota metropolitan yang kebanyakan orang mengira hanyalah Seoul.

Byun Yo Han tersenyum menanggapi ucapan adiknya. Tapi dengan cepat senyumannya menghilang. Tatapannya beralih ke arah ibunya.

“Yo Han-ah, putraku” Il Hwa berlari dan memeluk erat putranya.

Koper kecil yang berada di depan kakinya dia singkirkan ketika melihat ibunya berlari ke arahnya. Sambil membalas pelukan “Eomma. Sudah berapa kali kukatakan. Jaga kesehatanmu. Jangan minum-minum. Apalagi hingga mabuk separah ini.” Byun Yo Han mengomeli ibunya. Tangan kanannya menopang ibunya dan membantunya berjalan memasuki rumah. Sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengangkat koper.

Suzy mengikuti kakaknya dari belakang sambil menopang Jiyeon. “Jiyeon-ah, kau harus mengurangi makanmu. Berat sekali.”

Suzy dan Byun Yo Han duduk  bersampingan di depan televisi. “Apa ada masalah?” tanya Yo Han sambil menatap adikknya.

“Tidak ada”.

“Tidak mungkin kau bisa berbohong padaku adik kecil. Lihatlah Eomma sekarang. Apa kau masih tak mau mengaku?” ucap Yo Han sambil mengacak rambut adiknya.

“Ah, Oppa. Aku sudah besar. Baiklah, aku akan mengatakannya. Tapi apa kau mau berjanji satu hal?”

“Apa?” Yo Han balas bertanya.

“Jangan melakukan apa pun setelah aku mengatakannya”.

“Aku tidak berjanji Bae Suzy”.

“Ya sudah, aku tak mau mengatakannya padamu Oppa” Suzy beranjak, namun tangan Yo Han menahan tangannya.

“Selama aku bisa menerimanya. Aku tak akan melakukan apa pun” jawab Yo Han tegas.

Suzy kembali duduk. Mulai menceritakan semuanya dari awal tanpa ada yang terlewatkan. Sesekali memandangi kakaknya yang matanya terlihat menyala-nyala. Apa seharusnya dia berhenti berbicara? Tapi itu tak akan bisa terjadi, karena kakaknya sekarang menuntutnya untuk menyelesaikan ucapannya sampai benar-benar selesai.

Byun Yo Han bisa menahan tubuhnya untuk tidak melakukan apa pun. Tapi batinnya sudah mengeluarkan sumpah serapah. Tangannya terkepal dengan kuat. Amarahnya benar-benar memuncak. Tapi dia tak mungkin meluapkan semuanya di depan adiknya. Kepalanya terasa akan meledak. Seo Kang Joon sialaaaaaan umpatnya berkali-kali.

“Apa kau baik-baik saja? Ah, pertanyaan bodoh macam apa yang sedang kutanyakan. Kau pasti sedang tidak baik-baik saja. Mau kutemani jalan-jalan?” tawar Yo Han.

Suzy menatap ragu kakaknya. Memalingkan wajah untuk menatap jam dinding. “Tapi ini sudah lewat tengah malam Oppa”.

“Memangnya tengah malam tidak bisa untuk jalan-jalan?” Yo Han menaikkan satu alisnya, menatap adiknya sambil tersenyum.

@@@

Suzy memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Berjalan menyusuri sungai han dengan kakaknya tengah malam memang tidak ada salahnya. Malahan dia merasa lebih baik sekarang. “Oppa, aku lelah”.

“Aku tahu apa maksud ucapanmu”. Byun Yo Han berjongkok, tanpa aba-aba Suzy segera menghampirinya.

“Oppa, terima kasih banyak. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau tidak ada” kata Suzy sambil menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.

“Jika boleh memilih, aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kau” Suzy melanjutkan ucapannya sambil mengeratkan pegangannya.

“Ya, jangan bicara sembarangan. Aku sudah menikah”.

“Aku tahu” ucap Suzy sambil menghela napas “Jung Yoo Mi Eonni, wanita paling beruntung sedunia karena bisa menikah denganmu”.

Dengan sekali gerakkan Byun Yo Han menurunkan adikknya. Memandangnya sungguh-sungguh “Dengar baik-baik. Aku tak akan membiarkan lelaki manapun menyakitimu. Sepertinya dia telah menyebabkanmu memiliki trauma. Tapi jangan kau lanjutkan traumamu ini. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus”.

Suzy bisa melihat kesungguhan dari ucapan kakaknya. Air mata tak bisa lagi dia bendung. Memeluk kakaknya dengan erat sambil menumpahkan semua kesedihannya.

@@@

 “Yoon Hye-ah, kau belum tidur?” tanya Myungsoo saat melihat adiknnya duduk di dekat jendela ketika dia akan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Tak ada jawaban ataupun anggukan dari adiknya.

“Semuanya akan baik-baik saja”.

Kim Yoon Hye mendongakkan kepala, menatap kembarannya. “Apa benar semuanya akan baik-baik saja? Tapi kenapa aku tidak yakin dengan itu semua? Apa yang harus aku lakukan Oppa?”

“Ikuti kata hatimu. Dan istirahatlah sekarang”.

Yoon Hye beranjak dari tempat duduknya, menuju kamarnya yang berada di samping kamar Myungsoo. Kim Myungsoo kini menempati kursi adiknya. Menatap keluar. Pandangannya tertuju pada jalanan depan rumahnya. Kejadian menegangkan tadi siang sedikit terlintas di ingatannya. Namun, sekarang pandangannya teralihkan dan benar-benar fokus pada seorang yeoja yang baru saja membuka pagar dengan seorang namja di belakangnya.

Bagaimana keadaanmu sekarang? Haruskah aku meminta adikku untuk menjauhi lelaki bernama Seo Kang Joon itu? batin Myungsoo lalu meminum air putih dari cangkir yang dibawanya.

 

TBC

 

Hai readers, apa ada yang menunggu part ini? Beberapa hari ini lagi ada tugas jadi baru bisa nyelesain sekarang. Jangan lupa kasih komentar yaa ^^ 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

19 thoughts on “Stand by Me part 5

  1. aku nungguin lohh 🙂
    thank sudah berkenang utk mengupdate ceritanya 🙂
    dan akhirnya ibu dan kakaknya sudh tau kejadian sebenrnya..
    kira2 apa yg akan dilakukan myungsoo selanjutnya??dan gmn dengan suzy juga keluarganya..ditunggu kelanjutannya yaa.. hwaiting

    Like

  2. huaaaa hiks nyesek bgt jadi suzy :((( kang joon brengsek bgt emang -_- ga sabar nunggu moment myungzynya :))) ditunggu ya miin 😀

    Like

  3. huaa suzy kasiaaan :((( nyesek bgt emang kang joon brengsek bgt hiks ga kuat bgt klo jd suzy :(( ga sabar nunggu moment myungzy ditunggu kelanjutnya secepatnya ya miiinn fighting

    Like

  4. Kenapa marga suzy dgn oppanya berbeda?akhirnya si kang joon dapet amukan jga dari eommanya suzy,kuharap nasib buruk suzy tak akan datang kembali.

    Like

  5. Untungnya masih ada orang2 di sekitar Suzy yg sangat menyayanginya, jadi ada yg bisa menguatkan dan menghibur saat Suzy sedih, terharu…
    Myungsoo juga mulai memikirkan keadaan Suzy, sudah mulai perhatian, senangnya…
    Laangsung baca next part, gomawo author 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s